Senin, 16 April 2012

dikenang

Berawal di Januari 2012, produksi air mata saya meningkat pesat. Saya nobatkan januari itu sebagai Glommy January. Mengenang tiga pria keriting sekaligus yang sudah menghadap Yang Kuasa terlebih dahulu. Pemeluk, Pecinta dan Pembalap: Ayah, James, Simoncelli. Hari itu hari minggu dan awal hari yang baru di tahun baru, 2012. Saya absen Gereja. Perasaan agak aneh tapi tenang, seperti ada yang ditunggu. Sepulang keluarga dari Gereja, abang saya memberitahukan bahwa James telah pergi. Sebelumnya memang Saya dengar handphonenya berbunyi terus tapi saya selalu abaikan. Ternyata, ITU, berita yang saya abaikan. Tak terkira bagaimana rasanya ketika abang saya memberitahu berita itu ke saya. Langsung ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Itu ga mungkin. Itu pasti joke di awal tahun. Saya punya banyak rencana dengan pria ini. Saya juga velum sempat jabat tangannya. Pikir saya. Saya langsung buka facebooknya. Aw tangis tak tertahankan. Tapi saya berusaha untuk tidak sedih. Saya juga ikut memberikan ucapan belasungkawa. Masih pasang senyum disitu. Sepanjang hari itu dan sampai saat ini atau mungkin seterusnya saya memikirkan dia. Malamnya saya bermimpi tentang dia. Hanya melihat saya dan seperti ada jarak diantara kami. Dia hanya perlihatkan teman-temanya ke saya. Malam berikutnya saya bermimpi tentang adeknya yang sangat perhatian ke saya. Saya rasa itu dia tapi dalam rupa adiknya. Mimpi selanjutnya dia perlihatkan keluarganya ke saya. Disitu saya rasa dia ada memberikan senyumnya untuk saya. Manis sekali. Pernah terbaca saya rencana keluarganya untuk membuat suatu buku kenangan untuknya. Saya juga mau ikutan, begitu banyak kenangan manis yang dia ciptakan semasa hidupnya, untuk saya. Konyol, lucu dan perhatian. Ya itu dia. Saya senang nama saya dimuat dibukunya padahal masih banyak yang lebih pantas dimuat disitu daripada tulisan saya. Saya harap-harap cemas terima paketan itu. Puji Tuhan, Dia buka jalan. Saya add account facebook papinya dan langsung ditanggapi papinya dengan meminta alamat saya untuk kirimkan paket buku itu. Dengan penuh keberanian saya minta kaosnya ke papi. Itu yang saya ingin minta ke adiknya dari dulu. Puji Tuhan lagi papi mengiyakan. Kaosnya pun punya makna tersendiri untuk saya. Pas terima buku, saya langsung baca. Selama baca itu, saya merasa ada didalamnya. Saya tau cerita itu. Ada salah satu bagian yang saya agak cemburu dan ya ga suka. Ceburu karena seharusnya itu saya yang isi hahha (maunya) dan ga suka karena si penulis terlalu ‘merubah’ james semasa mereka pacaran. Saya beranggapan bahwa ngapain berusaha ubah penamoilan orang karna toh nanti ada saatnya dia HARUS merubah itu. Yang penting kan hati yang bertumbuh baik setiap hari dan menjadikan diri baik juga. Tapi ya itu, kebiasaan wanita. Sekarang saya hanya berteman keluarganya. Suatu hari saya pasti ziarah ke rumahmu babe. Pasti. Saya sayang kamu. Itu yang ingin saya lakukan di tahun ini bersamamu, mencintaimu sepenuhnya. Semoga babe tenang disana bersama Bapa, Ayah dan Simoncelli. In Loving Memory, Johannes James Fredrick ( Jakarta, 25 Juli 1988 – Semarang, 1 Januari 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar